Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar. ( Terjemah QS:2:152)
Mendapat kabar bahwa anak tak bisa lagi belajar di sekolah merupakan pukulan telak bagi para orangtua, pun dengan saya. Hari itu kami dipanggil Kepala Sekolah tempat anak kami menuntut ilmu. Ada beberapa orangtua murid yang juga menunggu selain kami, hingga tiba giliran kami menemui kepala sekolah. Sepucuk surat diserahkan dari Kepala Sekolah kepada kami. Saya tidak akan menceritakan secara detil isi surat tersebut, tetapi intinya ialah anak saya dikembalikan kepada orangtua dengan alasan yang tak dapat saya buka di sini. Yang jelas alasan tersebut bukan berasal dari perilaku anak saya yang kebangetan bandelnya. Terpukul, iya. Kecewa, pasti namun saya mencoba untuk menerapkan suatu resep yang saya gunakan setiap terjadi masalah dalam hidup. Resep tersebut ialah TEMAN. Tenang - Endapkan - Muhasabah-ANtisipasi.
Tenang, saya harus tenang menghadapi. Yakinlah bahwa masalah ini datang dari Allah dan kami pun harus pasrahkan kenyataan ini kepada-Nya. Innalillahi Wa Innailaihi Rajiun.
Saya meyakini bahwa hati dan pikiran yang tenang tentu akan mudah bagi kita untuk menyelesaikan masalah.
Endapkan, pada umumnya masalah datang akan menimbukan dua pilihan yakni responsif atau reaktif. Saya lebih memilih responsif dengan mengendapkan masalah tersebut. Saya tidak ingin terjebak dalam emosi reaktif yang akan memperburuk keadaan. Saya endapkan kenyataan bahwa anak kami tidak bisa lagi bersekolah.
Muhasabah, Masalah yang kami endapkan tersebut, kami evaluasi dalam muhasabah. Setiap masalah tentu akhirnya berawal dari apa yang telah kami perbuat. Bukan dari orang lain. Istighfar adalah langkah tepat untuk mengawali muhasabah ini. Setiap kejadian kami telaah dan kami diskusikan. Kami sampaikan semua ini dalam setiap akhir sujud salat kami. La Hawla Wala Quwwata Ilabillah.
ANtisipasi, merenungi nasib tidaklah bijaksana karena hidup terus berlanjut. Segala langkah kami tempuh mulai dari mencari sekolah baru untuk anak kami. Beragam sekolah kami tawarkan kepada ananda, mulai sekolah formal hingga pondok pesantren. Apa lacur, tiada satu pun sekolah tersebut menjadi pilihan ananda, sementara tahun pelajaran baru sudah berlangsung.
![]() |
| Photo by Andy Kuzma from Pexels |
Saya bertanya kepada ananda tentang kemauannya belajar. Satu kalimat yang muncul, "Aku mau belajar bersama Abi". Nak, bagaimana mungkin kamu belajar bersama Abi, sedangkan Abi adalah guru SD sementara kamu sekarang masuk pada jenjang SMP? Ananda masih saja bersikeras dengan pendiriannya saat ini, "Aku Mau Belajar Bersama Abi".
Akhirnya kami memutuskan untuk menempuh Home Schooling di rumah. Sejujurnya, saya masih awam mengenai home schooling ini. Beragam buku baik paperbook maupun ebook saya pelajari. Saya coba komunikasikan dengan sahabat kami, Pak Bambang sebagai talent coach untuk memindai bakat dan minat anak saya. Saya ceritakan bahwa saat ini saya akan mencoba menempuh langkah HE. Beliau menyarankan agar saya dapat bergabung dalam komunitas Home Schooling, salah satunya ialah Komunitas HEBAT.
Pada suatu acara yang diselenggarakan Pak Bambang, saya menghadirinya. Di sanalah saya bertemu dengan para orangtua yang mempraktikkan home schooling. Pada saat itulah saya bertemu dengan Pak Amir sebagai koordinator Komunitas HEBAT Kota Semarang. Bak efek domino, dari sinilah saya mulai diperkenankan bergabung dengan komunitas HEBAT. Semoga dengan ini, saya bisa banyak belajar dan menimba ilmu dari pengalaman para orangtua HEBAT Semarang.
